Lakshmi Narayan Mittal (Orang Asia Terkaya di Dunia)



Nama Lengkap : Lakshmi Narayan Mittal
Alias : Lakshmi Niwas Mittal
Tempat Lahir : Rajashtan, India
Tanggal Lahir : 15 Juni 1950
Agama : Hindu
Tempat Tinggal : London, Inggris

Istri : Usha Mittal
Anak : Aditya Mittal, Vanisha Mittal

BIOGRAFI 
Lakshmi Narayan Mittal atau biasa dikenal sebagai Lakshmi Niwas Mittal lahir 15 Juni 1950 dari keluarga miskin di Sidalpur, Churu, Rajashtan India. Masa kecilnya, ia dan keluarganya tinggal di sebuah rumah yang dihuni oleh 20 orang. Mereka hanya tidur di lantai, yang kadang beralaskan rotan. Untuk memasak, mereka membuat perapian dari tumpukan batubata di belakang rumah yang dibangun oleh kakeknya. Lakshmi Mittal merupakan anak dari keluarga Mohan. Mohan ayah dari Mittal ini memberikan nama awalan Lakshmi di depan nama anak-anaknya, yang berarti Dewa Kekayaan. Mohan merupakan orang tua yang mementingkan pendidikan buat anak-anaknya, ia sadar bahwa pendidikan merupakan bekal sukses buat anak-anaknya. Untuk itu, Mohan yang pekerja keras, berani mengajak keluarganya bermigrasi dari tempat kelahiran mereka di sebelah barat India, ke sebelah timur India, agar anak-anaknya bisa menempuh pendidikan yang lebih baik di wilayah timur India ini.

Setelah lulus SMA, Mittal, remaja yang dikenal teman-teman dan keluarganya sebagai anak didik yang tergolong cerdas dan tekun itu, dengan berbagai usaha jerih payah ayahnya, dikuliahkan di universitas St. Xavier's College, sebuah universitas prestisius di Kolkata (dahulu bernama Calcutta). Mohan, si ayah memulai usaha di bidang baja, dengan membuat pabrik kecil. Sambil kuliah, Mittal membantu ayahnya di bengkel baja. Mittal mewarisi semangat kerja keras ayahnya dan termasuk anak yang cerdas dan teliti. Sambil kuliah dan bekerja membantu ayahnya di pabrik baja milik ayahnya itu, Mittal berpikir bagaimana cara mengembangkan pabrik itu menjadi lebih besar. Namun, kondisi lingkungan berkata lain. Kondisi negaranya yang mengenakan pajak yang tinggi, hampir 97% dan adanya pembatasan kuota, memaksa Mittal berpikir mencari alternatif lain.

Pada tahun 1976, dengan berbagai analisis situasi dan keadaan serta kecerdasan dalam memprediksi sesuatu, Mittal bersama istri dan anaknya hijrah ke Indonesia, Surabaya. Setelah beberapa lama di Surabaya, Mittal memilih Waru, salah satu daerah dipinggiran Surabaya, untuk mendidirikan pabrik Baja yang telah terencana sebelumnya.

Diatas tanah bekas persawahan seluas 16,5 hektar, Mittal mendirikan bangunan yang dijadikan pabrik bernama PT. Ispat Indo. Ia menanamkan modal US$ 15.000.000 (Rp. 135 Milliar) untuk mendirikan dan memulai mengoperasikannya.. Di Indonesia, ia hanya mempunyai saudara, yaitu saudara perempuannya yang terlebih dahulu sudah datang ke Indonesia menikah dengan warga negara Indonesia keturunan India yang berwirausaha di bidang Tekstil.Dengan segala keterbatasan bahasa, Mittal merekrut Nur Saidah, warga lokal untuk membantunya mendirikan usaha. Mittal waktu itu masih belum bisa berbahasa Indonesia dan bahasa Inggrisnya pun tidaklah sempurna. Bagi Mittal, pabriknya di Indonesia itu punya sejarah dan arti tersendiri karena merupakan pijakan pertamanya. Pabrik itu pula yang memberi arah hidup dan membuka jalan sukses baginya.

Setelah Ispat Indo, semua pabrik baja yang diakuisisinya diberi nama depan “Ispat,” yang dalam bahasa India berarti baja. Perusahaan induknya kini bernama Arcelor Mittal, yang kapasitas produksinya mencapai 14 juta ton per-tahun, setara dengan 52 kali kapasitas produksi Krakatau Steel pada saat ini.

Lakshmi Mittal diperkirakan mempunyai kekayaan sejumlah AS$25 miliar (Maret 2005). Ia menjadi orang terkaya di London juga di asia, mengalahkan kekayaan Sri Ratu Inggris, pemimpin negara yang pernah menjajah negaranya yaitu India. Ia membeli rumah termahal dalam sejarah, Kensington Mansion, senilai US$ 128Juta (1,3 Triliun rupiah) Ia juga menikahkan putrinya, Vanisha, dengan sebuah pesta pernikahan paling mewah abad 20. Konon untuk pesta itu, ia menghabiskan dana US$ 50Juta (500 Milyar).

Lakshmi Mittal adalah orang terkaya di Britania menurut Sunday Times Rich List 2005. Dia memegang aset baja di Afrika Selatan, Polandia, Indonesia, dan Kazakhstan.

Pada 2002 ia terlibat skandal politik yang disebut Garbagegate dengan Perdana Menteri Britania Raya Tony Blair ketika dirasakan sumbangan Mittal kepada Partai Buruh (sebesar £ 2 juta atau sekitar Rp. 35 miliar) telah mengakibatkan Blair membuat keputusan yang menguntungkan bagi Mittai dalam sebuah transaksi bisnis.

KARIR
Chairman and CEO of Arcelor Mittal Group dan LNM Group

PENGHARGAAN
“Steel Maker of the Year” dari New Steel 1994, sebuah media terkemuka di lingkungan industri baja.
“European Businessman of the Year 2004” dari Majalah Fortune
“Entrepreneur of the Year” dari Wall Street Journal tahun 2004
“Man of the Year” dari Koran Financial Times
“Business Person 2006” dari The Sunday Times 2006
“Gewinner 2006” dari Die Welt 2006
“Newsmaker of the Year” dari majalah Time 2006

Source: Wikipedia, Forbes,  IndiaTimes, BusinessWeek.

0 comments: